Categories

Analisis

Model Bisnis Freemium Untuk Startup Lokal

Wiku Baskoro - 23 November 2010

Meski SparxUp Award telah lebih dari dua minggu berlalu, namun ada beberapa hal yang saya ingat, terutama dari diskusi panel pada hari pertama yang dihadiri Rama (DailySocial), Dhanny (Kaskus), Satya (Koprol) dan David (LintasBerita). Ada satu pembahasan tentang bagaimana seharusnya para startup mendapatkan pemasukan dari layanan mereka.

Ada beberapa jawaban yang muncul dan salah satu yang saya ingat adalah jawaban dari Rama. Dia menjelaskan bahwa salah satu pemasukan yang bisa dijalankan oleh para startup adalah dengan mengenakan biaya pada layanan yang diberikan, salah satu model yang bisa dijalankan adalah freemium.

Model ini sebenarnya sudah banyak diterapkan oleh berbagai startup, terutama di luar negeri. Saya kemudian mencoba mencari beberapa ide atau beberapa contoh layanan freemium yang dianggap sukses, dan saya menemukan beberapa contoh dilayanan Quora. Anda bisa mengaksesnya di tautan ini.

Dari pertanyaan yang diajukan di Quora tersebut, ada beberapa jawaban yang diberikan tentang layanan yang dianggap cukup sukses menjalankan strategi bisnis freemium mereka, antara lain Skype, EFax, LogMeIn, 37 Signals, Spotif, Pandora, Last.FM, Flickr, DropBox, Skype, DevianArt, Evernote, dan tentunya masih banyak lagi.

Beberapa alasan yang dikemukakan tentang kenapa layanan freemium bisa berhasil, antara lain berkisar tentang adanya pembeda yang cukup dominan atas layanan gratis dengan layanan dengan sistem berbayar. Pembeda disini bukan berarti layanan gratis hanya diberikan fitur ala kadarnya sedangkan fitur berbayar diberi layanan lengkap bahkan diberikan bonus.

Freemium biasanya memberikan layanan gratis sebagai penarik atau semacam tester bagi para pengguna. Ada beberapa alasan kenapa layanan awal diberikan secara gratis, yang pertama adalah sumber riset, dimana layanan gratis bisa menjadi bank data tentang pengalaman penggunaan aplikasi, pengembang bisa menanyakan pendapat dan pengalaman pengguna dan mengambil berbagai saran untuk memperbaiki atau meningkatkan layanan yang mereka berikan.

Alasan yang kedua adalah sebagai penarik untuk layanan berbayar. Fasilitas gratis menjadi semacam program promo dimana pengguna dipersilahkan untuk menggunakan layanan yang disediakan, dan jika mereka tertarik bisa menggunakan fasilitas berbayar dengan mendapatkan manfaat, fasilitas serta value yang lebih.

Yang harus diperhatikan adalah tentunya tentang pembeda yang telah saya singgung diatas, layanan gratis tentu saja dibatasi dari segi fasilitas, namun yang mesti diperhatikan adalah jangan sampai fasilitas yang diberikan tidak memberikan pengalaman yang mendalam atas penggunaan, fasilitas gratis yang diberikan bisa berupa core service dimana aplikasi itu bekerja namun tanpa embel-embel tambahan fungsi, contohnya DropBox, yang adalah tentang penyimpanan file, jadi layanan gratis berupa fitur yang lumayan lengkap dari layanan penyimpanan file dan kemudahan pemindahan file dari dekstop ke cloud yang cukup mudah dengan fasilitas penyimpanan sejumlah tertentu.

Sedangkan fasilitas berbayar akan memberikan layanan lebih seperti jumlah kuota file yang lebih besar serta beberapa fasilitas lain yang tidak didapatkan di fasilitas gratis. Pembedaan antara layanan gratis dan berbayar juga harus memperhatikan nilai yang didapatkan oleh pengguna, dimana nilai dari layanan ini harus bisa diartikulasikan secara jelas, artinya pengguna akan dengan mudah mengenali mana fasilitas gratis dan mana yang berbayar tanpa menurunkan kualitas dari masing-masing sistem layanan, baik yang gratis maupun berbayar.

Logikanya adalah ketika pengguna menemukan bahwa layanan gratis produk Anda sangat berguna, maka mereka tidak akan sungkan untuk membayar dan berpindah kelayanan berbayar, yang penting harga juga tidak terlalu mahal dan fasilitas yang diberikan memang memberikan nilai guna yang sangat bermanfaat dan mengena.

Memang pada pelaksanaannya tidak semudah yang dikatakan, bisa jadi ada riset yang harus dilakukan, selain para startup harus tahu secara detail layanan mereka, startup juga perlu mengenali pangsa pasar dimana mereka mengeluarkan produk, riset kecil-kecilan tentang calon pengguna akan bisa memberikan gambaran tentang bagaimana perilaku mereka serta estimasi data, apakah mereka akan bersedia membayar untuk layanan tertentu atau tidak.

Tidak semua layanan juga bisa dijalankan dengan sistem freemium, ada kalanya memang startup harus benar-benar memberikan layanan mereka secara gratis dan mencari pemasukan dengan cara lain, tetapi bukan berarti sistem freemium ini tidak bisa diterapkan untuk para startup lokal, sejauh yang saya tahu, masih sangat jarang layanan aplikasi berbasis web lokal (minus penyedia layanan theme) yang menerapkan layanan berbayar, beberapa yang saya tahu adalah layanan untuk kerja kolaborasi menerapkan sistem ini.

So, ada yang mau memulai menjadi penyedia layanan berbayar? Atau Anda punya contoh layanan lain yang cukup berhasil dengan sistem freemium? Mari kita diskusikan pada kolom komentar.

Sumber Gambar: Freemium.org dan Techvibes.com.

Dailysocial.id is a news portal for startup and technology innovation. You can be a part of DailySocial.id`s startup community and innovation members, download our tech research and statistic reports, and engage with our innovation community.

Sign up for our
newsletter

Subscribe Newsletter